Berita

Omong Kosong Investasi Bodong

Artikel Tanggal: Kamis, 28 Maret 2019


Aminah (35), seorang ibu rumah tangga, ingin berinvestasi karena sudah menyadari manfaat investasi untuk masa depan dirinya dan keluarga. Ia pun memilih untuk menginvestasikan uang yang dimilikinya pada perusahaan investasi karena tergiur dengan imbal balik yang ditawarkan. Perusahaan investasi tersebut menjanjikan uang Aminah akan kembali sebanyak 70% dalam jangka waktu beberapa bulan. Tanpa pikir panjang, Aminah pun menanamkan seluruh uang yang ia peroleh dari suaminya. Tetapi, ternyata belum sempat uang yang ia tanamkan kembali dengan jumlah yang dijanjikan, perusahaan investasi tersebut dinyatakan melakukan praktik penggelapan dan pencucian uang oleh OJK. Aminah dan nasabah lainnya pun menjadi korban penipuan perusahaan investasi bodong tersebut karena kurang memahami seperti apa bentuk perusahaan investasi yang benar-benar bisa membawa keuntungan bagi para nasabahnya.

Kasus penipuan yang menimpa Aminah dan banyak nasabah lainnya, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Dilansir dari Suara, kasus ini sudah ada sejak tahun 2007, bahkan sudah membawa kerugian sebesar Rp 106 triliun hingga tahun 2017. Satgas Waspada Investasi yang berada di bawah OJK, sudah mencatat sebanyak 47 investasi bodong untuk tahun 2019 ini. Selain iming-iming imbal balik yang tinggi dan cepat, biasanya perusahaan investasi bodong juga menyepelekan persoalan risiko yang akan ditanggung oleh nasabah.

Padahal menurut POJK No. 01/POJK 05/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Non-Bank, telah dijelaskan mengenai ketentuan persentase komposisi dalam investasi pada instrumen tertentu seberapa besar dan juga dalam memilih komposisi tersebut harus mengikutsertakan nasabah. Jika melanggar, lembaga atau perusahaan keuangan tersebut akan mendapat sanksi berupa teguran hingga proses hukum pidana.

Agar terhindar dari kasus yang dialami oleh Aminah dan lainnya, kamu perlu memperhatikan hal berikut sebelum memutuskan menginvestasikan danamu pada perusahaan investasi atau lembaga keuangan:

Cari tahu izin usaha perusahaan investasi.

Pahami instrumen aset yang kamu investasikan.

Jangan tergiur dengan return investasi yang langsung besar.

Selalu follow-up dana investasimu dengan perusahaan investasimu.

Pahami kemungkinan risiko dari investasimu.

Sebenarnya, jika kamu mencoba investasi reksa dana, akan lebih aman karena dana investasimu akan dikelola oleh manajer investasi yang tentunya berpengalaman. Perusahaan manajemen aset atau investasi reksa dana pasti akan memberitahu secara lengkap mengenai return dan risiko yang akan diperoleh oleh nasabah jika berinvestasi pada instrumen reksa dana tertentu. Jadi, sudah tahu kan cara menghindari investasi bodong itu seperti apa Sahabat Rendra? Jika ada yang belum kamu pahami, ada baiknya kamu juga cari tahu soal produk investasi itu seperti apa sih? Investasi? Ya reksa dana aja! Let's Having Funds!


Penulis: Syahzanan Haunan Fatharani

Sumber Gambar: freepik.com


X

X