Berita

Saat Baru Gajian, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Artikel Tanggal: Minggu, 05 Mei 2019



Tring, uang gajian baru ditransfer masuk ke dalam rekening tabungan. Pada titik ini, Sobat Rendra mulai memikirkan kebutuhan apa saja yang harus diwujudkan. Melirik ke kanan, ada tas yang warnanya mulai pudar. Melihat ke kiri, ada pakaian yang sudah dipakai berulang kali dan perlu diganti.

Saat baru gajian, wajar jika semua hal terasa seperti kebutuhan. Padahal, tidak semua kebutuhan harus kita penuhi dalam satu bulan. Lebih penting lagi, tidak semua "kebutuhan" benar-benar merupakan kebutuhan. Bisa jadi, beberapa di antaranya hanya keinginan sesaat yang bila ditunda tidak akan muncul lagi.

Hati-hati. Jika tidak cermat, pendapatan bisa hilang hanya dalam waktu singkat. Kalau sudah begitu, Sobat Rendra terpaksa  menghemat pengeluaran sampai hari gajian datang lagi. Akan tetapi, apakah hidup dari gaji ke gaji merupakan hal yang bijak? Bagaimana jika suatu hari, Sobat Rendra tidak bisa bekerja lagi?

Hal itu tentu bukan kebiasaan yang baik. Dengan niat menjaga gaji agar tetap utuh, Sobat Rendra menolak memecah uang ke dalam beberapa bagian. Tetapi yang terjadi malah, besaran pengeluaran Sobat Rendra tidak terkontrol dengan benar. Dana bocor entah ke mana. Mungkin di konsumsi, mungkin di sosial pergaulan.

Sobat Rendra, belanja sehari-hari tidak bisa dipaksa berhenti. Daripada keras kepala menahan jumlah gaji kita agar tetap pada tempatnya, alangkah lebih baik jika kita membagi gaji tersebut ke dalam pos-pos pengeluaran dengan jumlah yang bijak.

Lantas, berapakah "jumlah yang bijak" itu?

Sebenarnya, pembagian porsi kebutuhan merupakan hak Sobat Rendra seutuhnya. Akan tetapi, mari kita coba membagi gaji tersebut ke dalam porsi yang bijak menurut Ryan Filbert, Praktisi dan Inspirator Investasi Indonesia.



Sobat Rendra bisa merinci lagi diagram kebutuhan tersebut. Misalnya, konsumsi dibagi menjadi sosial pergaulan, belanja online, dan makan sehari-hari.

Membagi gaji ke dalam beberapa pos pengeluaran merupakan hal pertama yang harus dilakukan untuk menghindari kebocoran aliran dana yang tidak jelas muaranya. Dengan begitu, Sobat Rendra akan membatasi diri di angka yang sudah ditetapkan jika dana pada pos konsumsi, misalnya, sudah tidak tersisa lagi. Bukan malah terus melakukan konsumsi mengesampingkan amal dan investasi.

Selamat mencoba, Sobat Rendra!


Penulis: Elva Mustika Rini

Sumber Gambar: Freepik

X

X