Artikel - Ahli

Kalau Ngga Bisa Ke Properti, Ke Reksa Dana Saja

Artikel Tanggal: Senin, 17 Juni 2019


Setelah libur cukup lama saat lebaran, yang ditutup dengan sebuah pekerjaan untuk memberikan pembekalan secara keuangan bagi para pensiunan dini di salah satu perusahaan perbankan dan media, saya memulai pekerjaan dengan memberikan sebuah seminar terbatas dengan tema produk investasi tepat setelah pilpres.

Saya kira nggausah saya ceritakan detail apa isi seminarnya, tapi intinya adalah membahas tentang bagaimana sebenarnya prospek masing-masing produk investasi setelah pesta demokrasi kita selesai. Dari semua pembicara yang ada, semua mengatakan optimis dengan perkembangan ekonomi pasca pilpres. Artinya apapun produknya, untuk jangka panjang sampai 5 tahun ke depan ngga usah takut uang anda akan lenyap asalkan diletakkan di keranjang yang tepat.

Properti Sebagai Produk Investasi

Properti adalah salah satu produk investasi paling hot dibicarakan. Dalam setiap seminar dan pelatihan yang saya bawakan, pasti ada yang menyinggung produk ini dan ingin mengetahui lebih dalam bagaimana trik dan tips berinvestasi di jenis produk ini. Saya ngga akan membahasnya terlalu mendalam karena kita bukan di tempat yang tepat. Tapi untuk diingat, produk properti memang nggaada matinya. Sebagai salah satu bentuk investasi tertua, properti sudah cukup teruji menjadi andalan untuk mengembangkan uang investor. Bahkan salah satu perusahaan cepat saji yang selama ini kita mengira bisnisnya adalah kuliner, ternyata adalah sebuah perusahaan bisnis properti yang mana pembayaran properti tadi diperoleh dari bisnis kuliner. Jadi cashflowdengan bisnis kuliner, sementara meningkatnya assetsebagian besar diperoleh dari kenaikan nilai properti.

Tapi memang walaupun secara sejarah memiliki nilai baik di mata investor sebagai produk investasi, namun harus diakui juga bahwa produk ini memiliki kelemahan. Kelemanan yang paling mencolok adalah dana yang harus disiapkan besar dan likuiditasnya juga rendah. Oleh karena itu nggasemua orang bisa dengan mudah masuk bisnis ini dan nggasemua orang juga cukup sabar dan cukup kuat dengan rendahnya likuiditas investasi di properti.


Reksa Dana Sebagai Alternatif

Sesuai dengan judulnya, saya ingin merubah pandangan kita bahwa sebenarnya memiliki reksa dana nggakalah kok dengan memiliki properti. Yuk kita coba bongkar produk reksadana ini sebagai pengganti properti.

1.Hasil yang tinggi

Salah satu alasan orang memilih properti adalah tingkat returnatau hasil yang tinggi. Ada yang menyebutkan bahwa properti bisa memberikan hasil sampai ratusan persen keuntungannya. Nah apakah reksa dana juga bisa? Sederhana saja, kita coba lihat di list reksa dana yang ada, beberapa reksadana sudah ada yang memiliki NAB atau NAV lebih dari Rp 60.000,- artinya produk tadi sudah naik puluhan kali lipat karena ketika pertama kali dirilis, reksadana harganya adalah Rp 1.000,-. Katakan reksa dana sejarahnya dimulai tahun 1976, maka dalam waktu 43 tahun reksadana tadi sudah naik dari Rp.1.000 menuju Rp 60.000,- atau kenaikannya sekitar 5.900% atau rata-rata lebih dari 130% per tahun. Padahal banyak juga reksadana yang lahir setelah tahun 1976 dan harganya juga sudah di atas Rp 60.000,-. Jadi nggakalah kan ya dengan properti.

2.Ngga bisa hilang karena ada barangnya

Kenapa pilih properti? Karena aman. Kita memegang sertifikat sebagai bukti kepemilikan dan ada bentuk tanahnya (walaupun sering juga sertifikat palsu, tapi kita abaikan ya!). Di reksa dana memang kita ngga akan dikasi sertifikat kepemilikan saham atau obligasi sebagai bukti milik. Tapi tau nggakalau di reksa dana itu dana kita terkumpul dalam suatu kumpulan dana yang tidak dimiliki oleh si pengelola. Jadi MI sebagai pengelola hanya bertugas mengelola, sehingga dana tetap menjadi milik kita. Kita diberikan bukti kepemilikan dan si pengelola tidak memiliki hak untuk memiliki. Jadi aman kan, kalau nggaada orang lain yang mengklaim kepemilikan, maka sudah pasti reksa dana tadi adalah milik kita.

3.Bisa disewakan

Nah satu lagi alasan untuk memilih properti adalah bisa disewakan. Properti memiliki kelebihan karena kita bisa mendapatkan manfaat berupa hasil sampingan yaitu hasil sewa. Wah, kalau ini memang nggamungkin kita menyewakan reksa dana kita. Paling yang mungkin dilakukan adalah dengan menjaminkannya sebagai jaminan pinjaman. Tapi kan beda dengan sewa. Ok deh, reksa dana memang nggabisa disewakan, tapi kita coba lihat dari sisi lain yuk. Reksa dana memiliki potensi penghasilan dari penghematan pajak karena kenaikan nilai reksadana sudah bersih dari pajak. Bandingkan dengan properti yang dikenakan pajak tiap tahun, ditambah pajak penghasilan dari sewa dan ditambah lagi dengan pajak penjualan ketika properti itu dijual. Nah reksa dana dimudahkan karena nilai NAB sudah bersih dari hal tadi. Jadi kita tinggal melaporkan nilai reksa dana kita sebagai assetbukan sebagai penghasilan.


Tulisan ini bukan untuk menghalangi Anda untuk berinvestasi di properti ya, tapi mencoba memberikan gambaran alternatif untuk kita bisa memulai berinvestasi dengan nilai kecil tapi bisa memberikan manfaat yang sama.

Yuk, mulai investasi sekarang ya!

X

Featured Post


Bersyariah dengan Reksa Dana Syariah

Selasa, 16 July 2019


Sadarilah, Hidup Tidak Semudah Film The Avengers

Senin, 20 Mei 2019


Berapa Usia yang Tepat untuk Mulai Investasi?

Selasa, 23 April 2019


Risiko Keuangan bagi Perempuan

Senin, 11 Maret 2019


Salah Memperlakukan Investasi

Rabu, 13 Februari 2019


Empat Tips Dasar Agar Resolusi Bisa Berjalan

Rabu, 16 Januari 2019


Lima Tantangan Berinvestasi bagi Milenial

Kamis, 13 Desember 2018


Millenial Ngga Bisa Beli Rumah? HOAX....

Selasa, 13 November 2018


Hati-Hati Hoaks Investasi

Selasa, 09 Oktober 2018


Investment Habit

Rabu, 12 September 2018


Memilih Wakil . . .

Jumat, 10 Agustus 2018


Menyesal Saat Investasi Turun, Percuma!

Senin, 09 July 2018


Membangun Negara dengan THR

Kamis, 07 Juni 2018


Diskon.. Diskon..

Jumat, 11 Mei 2018


Produk Investasi Bukan Spekulasi

Kamis, 12 April 2018


X