Artikel - Ahli

Pelajaran Berharga dari Blackout

Artikel Tanggal: Selasa, 27 Agustus 2019


Bila kita memperhatikan media, sepertinya berita mengenai terjadinya “blackout” atau pemadaman di kota Jakarta sebagai ibukota Negara belum selesai. Cerita seru tentang apa yang dilakukan, kerugian yang sudah mulai dihitung-hitung sampai dengan kritikan tajam pada perusahaan penyedia dan penyalur listrik masih sangat bisa dengan mudah kita temui.

Kegelapan yang berlangsung sekitar 12 jam rata-rata telah membuat semua kegiatan lumpuh. ATM sebagian tidak bisa digunakan, transaksi non-tunai tidak bisa dilakukan, bahkan sampai transportasi harus berhenti hanya karena pemadaman tadi. Kita semua seperti kembali ke zaman batu, dimana semua kegiatan lumpuh akibat ketiadaan listrik.

Saya tidak akan membahas tentang listriknya, tapi saya ingin membahas bagaimana tidak berdayanya kita akibat tidak mempersiapkan diri bila terjadi suatu masalah yang di luar kendala kita termasuk di keuangan.

Emergency!

Sebenarnya kita semua tahu bahwa risiko terbesar dari penggunaan listrik adalah padamnya listrik sehingga kita tidak bisa menggunakan alat-alat yang perlu sambungan listrik untuk digunakan. Tapi masalahnya, kita sering lalai akan adanya kemungkinan itu sehingga lupa untuk mempersiapkan rencana cadangan saat padamnya listrik benar-benar terjadi. Akibatnya, saat listrik mati kita ngga bisa melakukan kegiatan karena ngga ada lilin atau senter, ngga pegang uang tunai padahal harus bayar pembelian lilin, dan lebih parahnya lagi, ngga bisa makan karena uang ada di aplikasi handphone dan kartu. What an emergency situation

Pernah punya emergency lamp? Itu loh lampu cadangan yang diperlukan dan digunakan saat lampu mati. Jadi fungsinya memang baru dirasakan saat lampu atau listrik utamanya mati. Nah dalam kehidupan keuangan, kondisi yang tidak sesuai dengan harapan disebut dengan risiko. Ada risiko yang bisa diperkirakan, dan ada juga risiko yang tidak bisa diperkirakan. Kita ngga akan pernah tau kapan kedua risiko tadi akan terjadi tapi kita sebaiknya memiliki rencana, apa yang harus dilakukan apabila memang risiko itu benar-benar terjadi. Saat blackout Jakarta beberapa hari lalu, semua orang menjadi sadar ternyata saat ini keuangan sudah dikuasai oleh teknologi. Keuangan saat ini sudah tidak lagi berbentuk fisik, melainkan non-fisik alias serba online. Saat ini ada beberapa yang berupa kartu, dan yang lebih canggih lagi hanya berupa pengakuan bahwa uang itu ada. Semua ternyata tergantung pada satu sarana, yaitu listrik. Dan saat listrik mati, kartu ngga bisa berfungsi, serta pengakuan dari pihak teknologi terhambat karena server down. Maka saat itulah kita sadar, ternyata tanpa listrik kita adalah orang miskin yang sebenarnya memiliki uang. Emergency fund yang biasanya diabaikan menjadi sesuatu yang penting dan disadari kebutuhannya. Ada yang membuka-buka lagi setiap tas yang dimiliki untuk mencari siapa tau ada uang cash yang terselip, membuka tiap amplop dan buku di rumah untuk mengingat lagi apakah ada uang yang terselip disitu, mengumpulkan recehan yang biasanya tersebar entah kemana yang sekarang ternyata jadi penting, bahkan sampai beberapa orang tua memohon kepada anaknya untuk bisa diizinkan memecah tabungannya dengan janji akan diganti lebih banyak untuk sekedar membeli kebutuhan yang ngga bisa terbeli karena listrik mati. Jadi emergency fund berupa uang cash yang dulu dianggap sebelah mata, di situasi seperti ini jadi sangat penting ya?

Emergency Fund di Keuangan

Dari celoteh saya di atas, tergambar bahwa emergency fund memang baru dibutuhkan saat kita mengalami risiko, dalam hal ini risiko yang tidak bisa diperkirakan. Berbeda dengan asuransi sebagai risiko yang bisa diperkirakan (orang pasti akan meninggal dan akan sakit), emergency fund ini walaupun sifatnya sama-sama proteksi, namun lebih ke jangka pendek. Maka karenanya, emergency fund ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan asuransi :

1. Likuid

Emergency fund harus likuid, karena harus bisa digunakan jika sewaktu-waktu dana tersebut dibutuhkan dan dapat cepat tersedia.

2. Ngga banyak tapi harus cukup

Besaran emergency fund yang ideal adalah 3+6x pengeluaran bulanan. Besaran yang diperlukan setiap orang pastinya berbeda, karena biaya pengeluaran yang dibutuhkan juga berbeda pada setiap orang.

3. Penempatan yang tepat

Seperti disebutkan di atas, dia harus likuid atau bersifat likuid. Maka penempatannyapun harus ke produk keuangan yang memiliki sifat itu. Harus dalam bentuk cash sebagian, tabungan, dan terakhir ke deposito atau reksa dana pasar uang.

Akhirnya seperti kata Pak Presiden, risiko itu seharusnya perlu dihitung kemungkinannya sehingga saat terjadi tidak mengakibatkan kerugian besar bagi keuangan kita. Emergency fund adalah penyelamat awal keuangan kita.


photo source: AP Photo/Dita Alangkara (https://pressfrom.info/uk/news/world/us-news/-353138-indonesian-capital-hit-by-massive-8-hour-power-outage.html)

X

Featured Post


Ngga Ada Kata Pensiun di Investasi

Rabu, 11 September 2019


Bersyariah dengan Reksa Dana Syariah

Selasa, 16 July 2019


Kalau Ngga Bisa Ke Properti, Ke Reksa Dana Saja

Senin, 17 Juni 2019


Sadarilah, Hidup Tidak Semudah Film The Avengers

Senin, 20 Mei 2019


Berapa Usia yang Tepat untuk Mulai Investasi?

Selasa, 23 April 2019


Risiko Keuangan bagi Perempuan

Senin, 11 Maret 2019


Salah Memperlakukan Investasi

Rabu, 13 Februari 2019


Empat Tips Dasar Agar Resolusi Bisa Berjalan

Rabu, 16 Januari 2019


Lima Tantangan Berinvestasi bagi Milenial

Kamis, 13 Desember 2018


Millenial Ngga Bisa Beli Rumah? HOAX....

Selasa, 13 November 2018


Hati-Hati Hoaks Investasi

Selasa, 09 Oktober 2018


Investment Habit

Rabu, 12 September 2018


Memilih Wakil . . .

Jumat, 10 Agustus 2018


Menyesal Saat Investasi Turun, Percuma!

Senin, 09 July 2018


Membangun Negara dengan THR

Kamis, 07 Juni 2018


X