Artikel - Ahli

Utang untuk Investasi? Syarat dan Ketentuan Berlaku!

Artikel Tanggal: Rabu, 13 November 2019



Dalam dua hari ini pasar agak demam. Penurunan pasar sedang dialami oleh sebagian produk pasar saham. Pada saat ini memang biasanya ada dua saran yang dianjurkan oleh para ahli transaksi yaitu hold, berdiam diri sesaat sambil tunggu pasar reversal dan naik, atau sedikit berspekulasi dengan memilih saham bagus dengan harga diskon dan membelinya di harga bottom. Semua memiliki kelebihan dan memiliki kekurangan, namun saya ngga akan bahas soal hal itu saat ini, saya ingin membahas; saat harga lagi bagus, harga diskon banyak dan murah, uang kas lagi kosong; apakah bijak jika kita meminjam untuk membeli investasi?

Saya masih ingat kejadian krisis di tahun 1998 di mana semua harga produk investasi jatuh se jatuh-jatuhnya. Saham nilainya bisa hanya 20% dari nilai wajarnya. Properti juga sama. Seorang rekan saya ditawari sebuah bangunan yang harganya saat itu sekitar 200 juta rupiah, menjadi hanya sekitar 40 juta rupiah, dengan syarat uangnya harus ada saat itu juga. Luar biasa…  Hanya masalahnya rekan saya tidak punya dana sebesar itu. Dan saat itu, utangpun ngga mudah.

 

Hutang untuk Investasi Tepatkah?

Bagaimana bila kesempatan itu hadir di depan kita? Apakah hutang diperbolehkan?

Bagi seorang financial planner seperti saya, aturan hutang sudah jelas, yaitu dilarang untuk mempertaruhkan sesuatu beban atau biaya pasti dengan penghasilan atau pembayaran yang belum pasti. Seperti kasus hutang untuk investasi, hutang bersifat biaya pasti, pembayaran pokok dan bunga selalu jalan tiap bulan. Investasi? Bersifat tidak pasti karena ngga ada yang bisa memastikan bahwa investasinya memberikan hasil pasti kecuali bila berinvestasi ke produk yang memberi hasil pasti. Tapi untuk kasus seperti saham, emas, dan properti bagaimana? Tentunya instrumen investasi ini tidak dapat memberi hasil yang pasti. Jadi ngga mengherankan jika financial planner pasti dengan tegas mengatakan investasi dibiayai oleh hutang adalah sesuatu yang tidak disarankan dan merupakan tindakan yang tidak benar.

 

Margin, Utang Investasi

Satu hari saat saya menjadi pembicara seorang peserta seminar bertanya kepada saya bagaimana bertransaksi dengan menggunakan margin. Untuk informasi saja, sebagai penjelasan sederhana margin adalah fasilitas yang diberikan oleh pihak broker kepada nasabahnya untuk bertransaksi di atas dana yang dimilikinya, dimana kelebihan dana tadi dianggap sebagai pinjaman yang bunganya dihitung berdasarkan persentase tertentu di kali dengan berapa lama dana itu digunakan. Jadi kalau misalnya kita ngga punya dana dan kita ingin membeli sebuah saham, kita bisa tetap membeli dengan dana dari broker tadi dan kita akan dikenakan bunga atas penggunaan dananya. Jadi seperti pinjaman juga, tapi ini pinjamannya untuk membeli saham. Nah margin bisa dikatakan sebagai pinjaman atau utang dengan tujuan investasi.

 

Boleh tapi syarat dan ketentuan berlaku

Sekarang kembali ke masalah kita. Sebagai seorang financial planner saya memang selalu menekankan adalah suatu yang salah bila kita menggunakan utang untuk tujuan investasi. Tapi harus diakui bahwa di dalam dunia investasi ternyata ada produk atau mungkin keputusan yang menghasruskan seseorang melakukan hal tadi. Jadi sebagai jalan tengah, utang untuk investasi boleh dijalan kan dengan syarat :

1. Value dan nilai yang diperoleh lebioh besar dari bunga yang dibayarkan.

Membeli property di daerah yang pertumbuhannya tinggi dan bisa disewakan dengan cara KPR adalah contohnya. Mendapatkan value dari kenaikan nilai tanah, pendapatan dari sewa dan bunga KPR lebih rendah dari nilai penghasilan sewa dan kenaikan tanah. Jadi ini adalah contoh baik utang untuk investasi.

2. Bukan Spekulasi

Kenapa menggunakan margin, karena yakin dengan perhitungan bahwa harga sudah dibawah harga pasar sehingga kemungkinan yang terjadi selanjutnya adalah harga akan naik. Nah bila memang kita memiliki keyakinan ini dan didukung dengan dasar perhitungan yang teruji, maka ngga salah kita berutang untuk investasi. Tapi bila penggunaan margin hanya sekedar kira-kira dan feeling. Itu spekulasi.

3. Membatasi kerugian

Nah ini yang sering diabaikan. Dengan dalih badai pasti akan berlalu dan semua akan naik pada waktunya, maka penggunaan utang tetap dipertahankan dengan harapan aka nada perubahan gerak harga dan nilai ke depannya. Bila Anda menggunakan dana murni, ngga masalah. Tapi bila menggunakan dana utang; sebaiknya batasi waktu dan nilai kekutan Anda. Bila sebab makin kita menahan waktu lebih lama, maka akan makin banyak juga beban yang harus kita tanggung. Jadi disiplin dengan penggunaan dana utang itu perlu. 

X

Featured Post


Agar Resolusi Tidak Basi

Rabu, 15 Januari 2020


Tiga Tips Penenang Di Saat Pasar Turun

Kamis, 12 Desember 2019


Krisis? Siapa Takut?

Senin, 14 Oktober 2019


Ngga Ada Kata Pensiun di Investasi

Rabu, 11 September 2019


Pelajaran Berharga dari Blackout

Selasa, 27 Agustus 2019


Bersyariah dengan Reksa Dana Syariah

Selasa, 16 July 2019


Kalau Ngga Bisa Ke Properti, Ke Reksa Dana Saja

Senin, 17 Juni 2019


Sadarilah, Hidup Tidak Semudah Film The Avengers

Senin, 20 Mei 2019


Berapa Usia yang Tepat untuk Mulai Investasi?

Selasa, 23 April 2019


Risiko Keuangan bagi Perempuan

Senin, 11 Maret 2019


Salah Memperlakukan Investasi

Rabu, 13 Februari 2019


Empat Tips Dasar Agar Resolusi Bisa Berjalan

Rabu, 16 Januari 2019


Lima Tantangan Berinvestasi bagi Milenial

Kamis, 13 Desember 2018


Millenial Ngga Bisa Beli Rumah? HOAX....

Selasa, 13 November 2018


Hati-Hati Hoaks Investasi

Selasa, 09 Oktober 2018


X