Artikel - Ahli

Aku Pilih Tidak Takut

Artikel Tanggal: Rabu, 13 Mei 2020

Seperjalanan hidup saya, minimal sudah tiga kali krisis yang saya alami, yaitu pada tahun 1998, 2008 dan kemudian saat ini, 2020. Siklus 10 tahunan mungkin sudah ngga terlalu relevan karena ternyata krisis sekarang terjadi lebih dari 10 tahun jaraknya dibandingkan dengan krisis sebelumnya. Lupakan siklus, karena saya ngga akan membahas salah satu kriteria dalam teknikal tersebut. Tapi saat ini saya ingin sedikit membahas tentang behavioral atau perilaku investasi yang dilakukan masyarakat ketika terjadi krisis.


Pasar yang Jatuh

Salah satu indikasi krisis dalam keuangan adalah kondisi pasar khususnya pasar modal yang jatuh. Tahun 2008 IHSG yang dijadikan indikator pasar investasi turun sekitar 50%. Salah satu penurunan pasar terbesar yang pernah terjadi. Penurunan pasar ini juga mengindikasikan turunnya nilai investasi investor apabila mereka berinvestasi di pasar tersebut. Jadi mudahnya bila seseorang di tahun 2007 memiliki dana satu juta rupiah, maka akibat penurunan di tahun 2008 nilai asetnya menjadi hanya 500 ribu rupiah. Kenapa ini bisa terjadi? Salah satu penyebab pasti adalah karena tekanan jual yang lebih tinggi daripada beli. Di pasar harga terbentuk karena adanya sisi demand dan supply. Bila supply lebih banyak dari demand, maka supply bisa menekan harga dan akibatnya harga cenderung turun. Sebuah hukum pasar yang normal dan umum. Apakah yang dilakukan investor dengan menjual asetnya tersebut salah? Mungkin saja tidak, mereka harus menjualnya karena memang membutuhkan dana saat itu. Sebab saat krisis, biasanya diikuti dengan kenaikan harga yang membuat harga kebutuhan jadi tinggi. Bisa jadi juga harus menjual karena ada kebutuhan mendesak yang lebih harus didahulukan, adalagi yang melepas dengan alasan  tidak mau kerugiannya makin besar dan sebagainya. Jadi ada banyak alasan dan penyebab investor lebih banyak melepas asetnya daripada masuk.

 

Panik Pasar = Kesempatan

Sudah kita bahas bagaimana kondisi sosial merubah perilaku investasi. Saat krisis membuat orang menjauhi kegiatan yang namanya investasi. Pasar IHSG dengan jelas memperlihatkan perilaku tersebut. Tapi pernahkan kita sadari tenyata dibalik koreksi pasar yang turun jatuh, ternyata ada peluang dan kesempatan yang menggiurkan ?

Ketika krisis pertama tahun 1998, pasar tumbuh 70%, tahun 2008 pasar tumbuh 86% dan tahun 2015 setekah terjadi krisis Eropa dan China, pasar naik 15%. Artinya setelah jatuh pasar selalu berbalik dalam nilai yang lebih tinggi dari kejatuhannya. Tapi memang saya ngga mengatakan bahwa itu sebuah kepastian, tapi setidaknya secara perilaku, investor sebenarnya selalu optimis dengan pasar Indonesia, namun mereka juga panic ketika pasar turun. Nah apakah kita akan menjadi investor yang ikut-ikutan panic atau kita mau mengambil kesempatan untuk ikut tumbuh ketika pasar berbalik?



Berani saat yang lain takut

Ada 2 sikap yang bisa kita ambil saat krisis, apakah melihatnya sebagai ancaman atau kesempatan? Pasar selalu akan jatuh dan bangkit. Setiap dia jatuh, selalu diikuti dengan bangkit. Kebalikannya setiap dia naik, akan diikuti dengan jatuh. Nah mana yang akan kita perhatikan? Dalam 16 tahun terakhir sejak 2003-2020, terjadi 4 kali pasar turun termasuk tahun ini dan 12 kali pasar naik. Dan indahnya lagi, setelah turun ia naik dengan nilai yang cukup tinggi. Seperti contoh saya di atas, bahkan di tahun 2008 naik 86%. Kita tidak tau akan seperti apa pasar di tahun 2020 ini. tapi saya selalu yakin pasar akan selalu mencari jalan dan keseimbangannya. Ketika sudah terlalu jatuh, dia akan naik untuk memperbaiki keadaanya. Nah Apakah kita akan ikut takut dan melihat pasar jatuh? Atau megambil kesempatan saat dia sudah jatuh ? itu pilihan Anda. Tapi saya ingatkan lagi, dalam 16 tahun hanya 3 kali pasar jatuh, dan saat ini adalah yang ke 4 jadi kesempatan ini mungkin adalah kesempatan Anda. Anda akan berani atau ikut takut? Saya sih pilih tidak takut!!



Photo Source: https://croakey.org/

X

X