Artikel - Ahli

Dana Cadangan: Proteksi yang Sering Dilupakan

Artikel Tanggal: Rabu, 20 Mei 2020

Belakangan ini sedang viral di media sosial tentang curhat seorang netizen. Keyword yang ikut trending adalah “Gaji 20 juta”. Hal ini lantaran netizen tersebut menyebutkan bahwa gaji bulanan yang ia terima sebelum pandemi Covid19 adalah sebesar 20 juta, dan akibat dari penademi ini kantornya melakukan penyesuaian gaji sehingga karyawan hanya dapat menerima 50% dari besar gaji biasanya. Sedangkan dirinya memiliki beberapa tanggungan, seperti KPR rumah dengan harga 5 juta per bulan, dan cicilan mobil seharga 4.5 juta per bulan, dan juga ia masih memiliki anak yang perlu dipenuhi kebutuhannya. Intinya penghasilan yang ia terima berkurang sedangkan pengeluaran tetap ada, bahkan lebih besar. Dari cerita ini, kita akan coba untuk mengambil ilmu dan hikmah supaya ke depannya tidak ada di posisi yang sama atau terulang lagi yuk, Sobat Rendra.

 

Jadi dalam perencanaan keuangan, salah satu antisipasi yang harus dipertimbangkan adalah proteksi atau perlindungan atas suatu risiko. Proteksi di sini sebenarnya bukan untuk merubah sesuatu risiko, tapi mengalihkan risiko keuangan karena terjadinya musibah. Paling gampangnya, asuransi mobil bukan dibuat untuk menjamin mobil ngga akan hilang, tapi kalau hilang kita ngga akan kehilangan nilai ekonomi atas asset mobil kita.

Nah salah satu risiko yang harus diantisipasi dalam keuangan adalah hilangnya atau menurunnya penghasilan. Sebab penghasilan selalu berhubungan dengan pengeluaran. Masalahnya walaupun penghasilan hilang pengeluaran tidak otomatis hilang juga, walaupun keduanya adalah pasangan yang tidak terpisahkan. Jadi antisipasi atas risiko kehilangan penghasilan adalah perlunya proteksi dana cadangan.

 

Dana Cadangan, Sifat dan Nilai

Dana cadangan adalah sejumlah dana yang digunakan untuk mengatasi permasalahan keuangan yang mendesak diluar pengeluaran rutin. Berbeda dengan asuransi yang walaupun sama-sama berfungsi sebagai proteksi, dana cadangan harus kita buat dan kelola sendiri dan bukan dikelola oleh pihak lain. Nah karena harus bisa digunakan sewaktu-waktu, maka sifat utama dari dana cadangan adalah harus bisa dan mudah untuk diuangkan atau dapat dikatakan bahwa dana cadangan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Sebagai proteksi atas permasalahan penghasilan, maka setidaknya setiap orang berpenghasilan memiliki 3-12 kali besar pengeluaran atau penghasilan bulanan sebagai dana cadangan. Besaran tiap orang akan berbeda tergantung risiko pekerjaan dan diri seseorang. Sebagai contoh seorang karyawan akan beda dengan pengusaha, single akan beda dengan yang berkeluarga dan seterusnya.

Nah di masa yang penuh dengan ketidakpastian ini, dana cadangan adalah penyelamat. Mereka yang punya dana cadangan cukup akan terselamatkan karena tidak harus menjual asetnya atau terpaksa berutang di saat uang ketat yang membuat bunga tinggi.


 

 

Kemana Harus Disimpan?

Dengan sifatnya yang harus mudah dicairkan dan dijadikan likuid, maka dana darurat harus ditempatkan di tempat yang sangat mudah cair. Mungkin Sobat Rendra ada yang bertanya, kenapa ngga di simpan di rumah saja seperti di brankas? Boleh juga sih, tapi untuk mereka yang harus menyiapkan dana cadangan 12 bulan (seperti pengusaha) atau 6 bulan (karyawan dengan tingkat risiko tinggi) maka dana tadi cukup besar bila hanya dirumah saja dan tidak berkembang dengan baik. Misalnya pengeluaran 15 juta per bulan, maka besaran dana cadangan sudah hampir 100 juta.

Kemudian kalo dana cadangannya terlalu besar, harus sebaiknya disimpan dimana? Nah produk yang baik sebagai sarana dan dapat menjadi pilihan adalah :

1. Tabungan. Dengan kemajuan teknologi saat ini, maka tabungan adalah tempat menyimpan dana paling likuid saat ini. Kemudahan, ketersediaan dana, dan keragaman cara adalah kelebihan tabungan.

2. Reksa Dana Pasar Uang

Banyak yang mengira untuk menyimpan dana cadangan adalah tabungan dan kemudian deposito. Padahal sebenarnya ada produk yang relatif lebih mudah dan likuid yaitu reksa dana pasar uang. Dengan ketentuan harus dibeli lagi oleh pihak pengelola saat redemption, maka kepastian ini menjadikan reksa dana pasar uang sebagai instrumen seaman deposito dengan tingkat likuiditas lebih tinggi (karena bisa cair kapan saja, ngga harus ke bank untuk pencairan dan kena denda pencairan sebelum jatuh tempo).

3. Deposito

Produk bank ini udah ngga asing lagi kan ya? Memberi kepastian pokok dan jumlah bank yang banyak membuat dia cocok untuk dana cadangan. Tapi memang masih perlu hati-hati dan menyesuaikan dengan profile risiko masing-masing.

4. Emas

Untuk yang sedikit berisiko, emas bisa digunakan sebagai alternatif. Kemudahan untuk dicairkan karena merupakan alat tukar yang universal, membuat emas menjadi tinggi likuiditasnya.

5. Kartu kredit

Sebenarnya ini bukan dana cadangan tapi lebih sebagai fasilitas untuk menjamin tersedianya dana cadangan. Untuk mereka yang dana cadangannya dalam bentuk deposito ataupun emas dan belum bisa dicairkan dalam waktu cepat, maka kartu kredit bisa dijadikan sebagai pilihan. Walaupun hanya bisa digunakan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

 

Jadi mulai sekarang jangan anggap sepele dana cadangan ya. Ada baiknya kita mulai membuat perencanaan keuangan termasuk membuat dana cadangan untuk menangani hal-hal emergency yang akan terjadi di masa yang akan datang, serta menempatkannya di instrumen keuangan sesuai dengan kebutuhan. 


(image source: https://www.comfedcu.org/)

X

X