Zona MI

Mengenal Risk Adjusted Return (RAR) dalam Berinvestasi Reksa Dana

Artikel Tanggal: Jumat, 27 November 2015

Merupakan hal yang lumrah untuk seorang investor menginginkan asset yang diinvestasikan bertambah di masa mendatang. Beberapa orang ingin hasil yang stabil dengan tingkat risiko yang dapat ditoleransi. Tapi banyak juga yang menginginkan hasil yang signifikan dalam suatu periode. Manajer Investasi (MI) memainkan peran untuk menyortir individu tersebut ke dalam masing-masing kelompoknya, apakah mereka termasuk kelompok yang tidak bisa menerima risiko (risk adverter) atau mereka yang pemberani (risk taker).


Berikut adalah kategori reksa dana berdasarkan tingkatan risiko dan urutan potensi return yang terkandung di dalamnya:

1. Reksa dana pasar uang-risiko rendah
2. Reksa dana pendapatan tetap-risiko rendah ke menengah
3. Reksa dana campuran-risiko menengah ke tinggi
4. Reksa dana saham-risiko tinggi


Apakah kategori reksa dana diatas selalu mutlak dengan tingkatan risiko seperti yang disebutkan di atas? Secara umum iya, tapi sepanjang pengalaman karir saya di industri ini saya sering melihat reksa dana yang seharusnya masuk dalam kategori risiko menengah, memiliki fluktuasi NAB yang lebih tinggi dari pada reksa dana yang seharusnya termasuk dalam kategori risiko tinggi dan vice versa. Apakah hal tersebut bisa dikatakan manajer investasi ‘salah kelola’?


Mungkin terlalu buru-buru untuk mencap MI (Manajer Investasi) Anda, karena industri reksa dana yang dulunya niche market sudah bergerak ke mass market, didukung dengan perkembangan pasar modal belakangan ini. MI terus berlomba-lomba menciptakan produk investasi yang inovatif untuk dapat diterima oleh masyarakat, sehingga pilihan produk investasi berupa reksa dana semakin beragam. Keputusan kembali ke diri Anda sendiri, manakah produk reksa dana yang paling tepat Anda beli sesuai toleransi risiko yang Anda miliki?


Apa Itu Risk Adjusted Return (RAR)?
Manajer investasi maupun selling agent reksa dana Anda memberikan kuesioner yang nantinya Anda isi untuk menilai seberapa ‘berani’ Anda. Apakah hal tersebut cukup untuk menjadi patokan? Kuesioner yang Anda isi tersebut mungkin bisa menilai toleransi risiko diri Anda di mata manajer investasi, tapi apakah Anda juga bisa menilai lebih dulu risiko produk dari manajer investasi tersebut? Jawabannya bisa dan sangat mudah.


Ada 5 cara pengukuran risiko yang utama, yaitu: Alpha, Beta, R-squared, standard deviation dan Sharpe ratio. But hold on there. Saya tidak meminta Anda untuk menghitung reksa dana Anda dengan ukuran di atas, karena manajer investasi Anda sudah memiliki kalkulasi risiko yang di atas dari setiap produknya. Anda cukup meminta data atau bertanya kepada MI atau selling agent Anda.


Bagaimana Cara Menggunakan RAR Tersebut?
MI biasanya menyediakan paling tidak 3 data tolak ukur, yaitu Alpha Jensen, Sharpe ratio, dan Treynor ratio. Langkah pertama yang Anda lakukan adalah membandingkan antara satu produk dengan produk lain menggunakan satu data tolak ukur. Jadi misalnya Anda membandingkan Alpha Jensen reksa dana A dengan reksa dana B, Treynor ratio reksa dana A dan reksa dana B, begitu seterusnya. Untuk Alpha Jensen, Sharpe Ratio, Treynor ratio, semakin positif dan tinggi nilainya maka reksa dana tersebut dapat dikatakan lebih baik. Misal:


  Reksa dana A Reksa dana B
Alpha Jensen 15% 12%
Sharpe ratio 0.7 0.3
Treynor ratio 0.07 0.06

Maka dapat diambil kesimpulan, reksa dana A jauh lebih baik daripada reksa dana B. simple bukan?


Kenapa Ukuran RAR Menjadi Penting?
Perlu diingat, Indonesia merupakan negara emerging market yang sedang lari kencang pertumbuhan ekonominya terlepas perlambatan ekonomi global yang sedang terjadi beberapa tahun belakangan, sehingga emiten yang listing di bursa juga mampu menggenjot ROE (return on equity) yang tinggi, di atas rata-rata kawasan regional. Pertumbuhan yang demikian, menciptakan demand terhadap saham-saham emiten di bursa. Dengan valuasi yang mahal dan dengan ekspektasi investor ROE yang tumbuh double digit tiap tahun, emiten-emiten tersebut seolah-olah diminta jangan sekalipun berbuat salah.


Dapat ditebak ketika market crash di 2013 dan perlambatan ekonomi menjadi current issue dunia di 2015, bursa mana yang terkena turbulensi paling dahsyat dan menjadi worst performer of the year.


Kesimpulan
Mengenal lebih jauh produk yang Anda beli mungkin sedikit memakan waktu Anda. Tetapi seperti yang saya jelaskan diatas, efek di Indonesia begitu juga reksa dana mampu menghasilkan return yang tinggi tapi juga mampu membawa risiko yang besar ke dalam investasi Anda. Lebih teliti dan cermat agar investasi Anda terus tumbuh dan terhindar dari risiko yang seharusnya dapat Anda deteksi sejak dini.


Pada akhirnya saya mengucapkan selamat berinvestasi dan semoga tujuan investasi Anda tercapai.


Bayu Pahleza,
PT Phillip Asset Management