Zona MI

YOLO: Hidup itu cuma satu kali

Artikel Tanggal: Senin, 20 Juni 2016

Banyak yang bilang "you only live once", kita hidup cuma sekali. Setuju? Setuju banget!


Hidup memang cuma satu kali, tapi satu kali hidup itu berlangsung berapa lama? Itu yang masih menjadi misteri. Kita sering menerjemahkan YOLO sebagai “Ayo bersenang-senang sekarang! Lupakan besok dan lusa. Hiduplah seakan esok dunia kiamat.” Untungnya, beberapa orang lain yang lebih bijak menerjemahkan YOLO dengan cara yang berbeda.


Hidup memang satu kali. Dan sepanjang hidup kita – tak peduli berapa tahun yang dipercayakan Sang Pencipta kepada kita – kita harus hidup bahagia. Hiduplah satu hari untuk mempersiapkan hari-hari selanjutnya. Makanlah hari ini sambil menyisakan cukup banyak untuk esok dan lusa.


Gampangnya, hidup kita dibagi dalam 3 tahap: masa kecil, masa produktif dan masa tua. Sepanjang masa kecil, kita hidup dalam asuhan dan tanggungan Ayah-Ibu. Tak perlu risau dengan biaya, tugas pokok kita adalah menimba ilmu dan pengalaman untuk menjadikan diri kita mampu berdiri sendiri secara mandiri. Tahapan kedua adalah masa produktif. Inilah tahapan yang paling penting, dan sedang dihadapi oleh kebanyakan dari kita. Pada masa produktif, kita menentukan berapa banyak yang kita hasilkan, berapa banyak yang kita habiskan, dan berapa banyak yang kita sisakan untuk tahapan terakhir hidup kita: masa tua. 


Kita punya penghasilan dari pekerjaan kita, kita juga harus mengongkosi hidup kita saat ini. Untuk dapat menyisakan untuk masa tua, ada dua jalan: penghasilan yang lebih besar, atau pengeluaran yang lebih kecil. Yang mana fokus kita? Besarnya penghasilan kita begitu dipengaruhi faktor-faktor eksternal: pekerjaan, atasan, kesempatan, kondisi ekonomi dan lain sebagainya. Sebaliknya, kecilnya pengeluaran kita lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu napsu dan kemampuan menahan diri. Jadi mana yang lebih mudah kita kendalikan? Ya benar, bukan besarnya penghasilan, tetapi kecilnya pengeluaran. Alias: irit! Inilah yang seharusnya menjadi fokus kita.


Memangnya seberapa penting sih masa tua disiapkan? Nggak terlalu penting kok! Serius! Bahkan kita tak perlu mempersiapkan masa tua sama sekali, jika kita bisa memastikan bahwa kita memiliki sejumlah besar uang yang tak akan habis digerogoti setiap bulan untuk hidup, bahwa kita tak akan secara tak terduga memerlukan sejumlah besar uang (misalnya untuk biaya pengobatan), bahwa akan ada seseorang yang sepenuhnya akan menanggung biaya hidup kita sampai kita mati, atau bahwa kita tak akan hidup sampai usia lanjut. Nah, selama kita tak bisa memastikan hal-hal tersebut, gunakan setiap detik di masa produktif kita untuk menyiapkan hidup kita di masa tua nanti. 


Pertanyaan berikutnya, disimpan di mana uang yang kita siapkan untuk masa tua ini? Terserah kita dong. Boleh aja di dalam celengan ayam, dengan risiko ditumbuhi jamur atau digerogoti kutu, itupun kalau tak digondol maling. Di tabungan bank? Nggak masalah, kalau kita tak keberatan dengan bunga 'seiprit' yang ludes (bahkan minus) termakan biaya ini dan itu. Kenapa nggak coba investasi di pasar modal? Saham, bisa. Obligasi, kenapa enggak? Kalau bingung? Gampang, ada reksa dana yang bisa jadi jembatan bagi investor-investor newbie: nggak perlu mengelola sendiri karena ada Manajer Investasi, modal ringan mulai dari Rp 100 ribu seperti di Reksa Dana Manulife.


YOLO, you only live once, artinya hari-harimu nggak bisa diulang.. Mari buat yang terbaik untuk hari esok kita.